Pelayanan kesehatan di tingkat desa menjadi tumpuan utama bagi masyarakat pelosok dalam mendapatkan pengobatan yang terjangkau. Namun, saat ini muncul kekhawatiran di wilayah Ngambeg dan sekitarnya mengenai ketersediaan farmasi dasar, di mana kondisi Stok Obat di puskesmas desa dilaporkan mulai menipis secara signifikan. Situasi ini sangat kontras dengan perkiraan peningkatan kunjungan pasien akibat perubahan pola makan saat puasa dan persiapan fisik warga sebelum melakukan perjalanan mudik. Ketiadaan jenis obat-obatan esensial seperti penurun panas, obat batuk, hingga obat maag dapat menghambat pelayanan medis yang mendesak bagi warga kurang mampu.
Menipisnya Stok Obat di puskesmas pedesaan sering kali disebabkan oleh keterlambatan distribusi dari gudang farmasi kabupaten atau tingginya permintaan yang tidak diprediksi sebelumnya. Menjelang libur lebaran, akses logistik biasanya mengalami hambatan akibat kepadatan lalu lintas dan liburnya operasional penyedia jasa pengiriman, sehingga pengisian kembali gudang obat menjadi lebih sulit dilakukan. Warga desa yang biasanya mengandalkan obat gratis dari puskesmas terpaksa harus mencari alternatif ke apotek swasta dengan harga yang jauh lebih mahal, yang tentu saja membebani ekonomi keluarga di tengah tingginya harga kebutuhan pokok Ramadan.
Masalah Stok Obat yang terbatas ini juga berdampak pada kualitas penanganan pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan terapi rutin setiap harinya. Pihak puskesmas harus melakukan manajemen prioritas yang ketat agar persediaan yang tersisa dapat digunakan bagi kasus-kasus darurat yang paling membutuhkan. Pemerintah daerah didesak untuk segera melakukan percepatan pengiriman logistik medis sebelum puncak arus mudik terjadi, guna memastikan puskesmas tetap memiliki cadangan yang cukup selama masa libur panjang lebaran berlangsung. Ketersediaan obat adalah hak dasar warga yang harus dipenuhi oleh negara tanpa kecuali, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
Dampak sosial dari ketidakpastian Stok Obat ini menimbulkan rasa cemas bagi para perantau yang akan pulang ke kampung halaman, karena mereka khawatir jika jatuh sakit tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai di desa asal. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan secara mandiri terus disampaikan oleh bidan desa sebagai langkah antisipasi. Selain itu, warga dihimbau untuk tidak menimbun obat-obatan secara berlebihan yang dapat memperparah kelangkaan di tingkat fasilitas kesehatan publik. Sinergi antara pemerintah desa dan dinas kesehatan sangat diperlukan untuk mencari solusi cepat, seperti sistem pinjam antar puskesmas yang stoknya masih mencukupi.
