Kerokan telah menjadi bagian dari budaya pengobatan tradisional masyarakat Indonesia selama turun-temurun, terutama saat merasa “masuk angin”. Namun, di tahun 2026, masih banyak perdebatan mengenai apakah praktik ini aman secara medis. Puskesmas Ngambeg mencoba menelaah Mitos atau Fakta Kerokan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat. Secara medis, kerokan sebenarnya merupakan bentuk terapi stimulasi permukaan kulit yang memicu reaksi fisiologis tertentu di dalam tubuh, namun ada batasan dan aturan yang harus diperhatikan agar tidak menimbulkan luka.
Dalam membedah Mitos atau Fakta Kerokan, dokter di Puskesmas Ngambeg menjelaskan bahwa warna merah yang muncul setelah dikerok bukanlah “angin yang keluar”, melainkan pecahnya pembuluh darah kapiler di permukaan kulit. Namun, hal ini tidak selalu buruk; pecahnya kapiler tersebut memicu pelepasan endorfin yang memberikan efek rileks dan meredakan nyeri otot. Selain itu, kerokan meningkatkan suhu tubuh di area tersebut, yang secara otomatis melancarkan aliran darah dan membantu metabolisme tubuh dalam membuang racun (detoksifikasi) melalui sistem limfatik.
Puskesmas Ngambeg menekankan bahwa meskipun bermanfaat, ada aturan penting dalam Mitos atau Fakta Kerokan. Masyarakat diingatkan untuk tidak mengerok tepat di atas tulang atau area yang sedang terluka. Penggunaan minyak sebagai pelumas sangat krusial agar tidak terjadi iritasi atau lecet pada kulit. Di tahun 2026, puskesmas menyarankan kerokan hanya sebagai terapi pendamping untuk gejala ringan. Jika demam berlanjut atau rasa nyeri tidak kunjung hilang, warga diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan diagnosis medis yang tepat.
Edukasi mengenai Mitos atau Fakta Kerokan ini bertujuan agar masyarakat tetap menghargai tradisi lokal namun dengan cara yang lebih sehat dan aman. Puskesmas Ngambeg juga mengingatkan agar tidak melakukan kerokan pada bayi atau penderita diabetes yang memiliki sensitivitas kulit tinggi. Dengan memahami dasar ilmiah di baliknya, warga bisa menggunakan kerokan sebagai langkah pertolongan pertama yang efektif namun tetap berhati-hati. Keseimbangan antara kearifan lokal dan ilmu medis modern adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan masyarakat pedesaan di era modern saat ini.
