Kanker serviks dapat dicegah jika terdeteksi sejak dini melalui Skrining Kanker yang teratur. Namun, banyak wanita yang bingung mengenai kapan waktu yang paling tepat untuk memulai prosedur ini, dan seberapa sering harus melakukannya. Keputusan untuk memulai Skrining Kanker serviks sangat bergantung pada usia, riwayat kesehatan, dan pedoman medis terbaru yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan profesional di Indonesia maupun internasional.
Secara umum, mayoritas pedoman klinis menyarankan agar wanita mulai menjalani Skrining Kanker serviks saat menginjak usia 25 tahun. Pada usia di bawah 25 tahun, infeksi Human Papillomavirus (HPV)—penyebab utama kanker serviks—sangat umum terjadi dan sering kali dapat sembuh atau hilang dengan sendirinya berkat sistem kekebalan tubuh yang masih kuat.
Bagi wanita usia 25 hingga 29 tahun, metode skrining yang direkomendasikan adalah Pap Smear (tes sitologi) yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Interval tiga tahun ini dianggap cukup untuk mendeteksi perubahan sel abnormal sebelum berkembang menjadi lesi prakanker atau kanker invasif. Memulai Skrining Kanker pada usia ini adalah langkah proaktif dalam manajemen kesehatan reproduksi.
Sementara itu, untuk wanita berusia 30 hingga 65 tahun, opsi skrining menjadi lebih sensitif. Kebanyakan ahli merekomendasikan co-testing, yaitu kombinasi antara Pap Smear dan Tes HPV DNA. Jika hasil co-testing keduanya negatif, interval skrining dapat diperpanjang menjadi lima tahun sekali karena risiko terjadinya kanker dalam jangka waktu tersebut sangatlah rendah.
Penting untuk dicatat bahwa skrining tidak diperlukan bagi wanita yang belum pernah melakukan aktivitas seksual, terlepas dari usianya. Selain itu, wanita yang telah menjalani histerektomi total (pengangkatan rahim dan leher rahim) karena kondisi non-kanker juga umumnya tidak memerlukan skrining rutin, kecuali ada riwayat prakanker sebelumnya.
Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi, seperti riwayat kekebalan tubuh terganggu (misalnya, karena HIV), atau riwayat infeksi HPV tipe risiko tinggi yang persisten, mungkin perlu memulai skrining lebih awal atau melakukannya dengan interval yang lebih pendek. Dalam kasus ini, frekuensi skrining harus diputuskan melalui konsultasi langsung dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
Mengikuti jadwal skrining yang direkomendasikan adalah tindakan preventif yang sangat efektif. Skrining tidak hanya mendeteksi kanker serviks, tetapi yang lebih penting, mendeteksi sel abnormal atau prakanker di tahap awal ketika pengobatan memiliki tingkat keberhasilan nyaris 100%.
