Akses terhadap air bersih merupakan salah satu pilar utama dalam menciptakan masyarakat yang Bebas Diare dan penyakit saluran pencernaan lainnya. Di wilayah Ngambeg, air sumur masih menjadi tumpuan utama warga untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, air sumur sangat rentan tercemar oleh rembesan limbah rumah tangga maupun bakteri koli dari lingkungan sekitar. Puskesmas Ngambeg pun hadir dengan memberikan edukasi teknis mengenai cara menjaga kualitas air sumur agar tetap layak dikonsumsi dan aman bagi kesehatan keluarga.
Langkah pertama dalam mewujudkan lingkungan yang Bebas Diare adalah dengan memperhatikan jarak aman antara sumur dengan sumber polutan seperti tangki septik. Petugas sanitasi Puskesmas secara langsung turun ke lapangan untuk membantu warga memetakan letak sumur yang ideal di lahan yang terbatas. Jika air sumur sudah terlanjur memiliki indikasi tercemar, masyarakat diajarkan metode filtrasi sederhana menggunakan bahan alam seperti pasir, kerikil, dan arang aktif. Upaya mandiri ini sangat efektif dalam menurunkan tingkat kekeruhan dan membunuh kuman berbahaya sebelum air digunakan.
Selain teknik penyaringan, kebiasaan memasak air hingga mendidih sempurna tetap menjadi rekomendasi utama. Banyak warga yang mengabaikan hal ini karena merasa air sumur mereka terlihat jernih, padahal kejernihan air bukan jaminan bahwa air tersebut Bebas Diare. Bakteri mikroskopis tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga proses pemanasan tetap menjadi cara paling ampuh untuk mematikan patogen penyebab penyakit perut. Edukasi ini diberikan secara konsisten kepada ibu rumah tangga sebagai pengelola utama kebutuhan air di dalam rumah masing-masing.
Pihak Puskesmas juga rutin melakukan pengujian kualitas air secara laboratorium untuk titik-titik sumur komunal. Hasil tes ini kemudian disosialisasikan agar warga mengetahui kondisi aktual sumber air mereka. Program Bebas Diare ini juga mencakup kampanye pembangunan jamban sehat agar tidak ada lagi pembuangan limbah yang langsung meresap ke tanah dekat sumber air warga. Sinergi antara infrastruktur yang baik dan perilaku masyarakat yang sadar kesehatan akan menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap serangan wabah penyakit menular berbasis air.
